Paradigma News

Tampilkan postingan dengan label Syukur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syukur. Tampilkan semua postingan

Istri yang Bijaksana

Ada seorang pria, tidak lolos ujian masuk universitas, orang tuanya pun menikahkan ia dengan seorang wanita. Setelah menikah, ia mengajar di sekolah dasar. Karena tidak punya pengalaman, maka belum satu minggu mengajar sudah dikeluarkan.

Setelah pulang ke rumah, sang istri menghapuskan air mata nya, menghiburnya dengan berkata: “Banyak ilmu di dalam otak, ada orang yang bisa menuangkannya, ada orang yang tidak bisa menuangkannya. Tidak perlu bersedih karena hal ini. mungkin ada pekerjaan yang lebih cocok untukmu sedang menantimu.”
Kemudian, ia pergi bekerja keluar, juga dipecat oleh bosnya, karena gerakannya yang lambat.
Saat itu sang istri berkata padanya, kegesitan tangan-kaki setiap orang berbeda, orang lain sudah bekerja beberapa tahun lamanya, dan kamu hanya belajar di sekolah, bagaimana bisa cepat?
Kemudian ia bekerja lagi di banyak pekerjaan lain, namun tidak ada satu pun, semuanya gagal di tengah jalan.

Namun, setiap kali ia pulang dengan patah semangat, sang istri selalu menghiburnya, tidak pernah mengeluh.
Ketika sudah berumur 30 tahun-an, ia mulai dapat berkat sedikit melalui bakat berbahasanya, menjadi pembimbing di sekolah luar biasa tuna rungu wicara.

Kemudian, ia membuka sekolah siswa cacat, dan akhirnya ia bisa membuka banyak cabang toko yang menjual alat-alat bantu orang cacat di berbagai kota.

Ia sudah menjadi bos yang memiliki harta kekayaan berlimpah.
Suatu hari, ia yang sekarang sudah sukses besar, bertanya kepada sang istri, bahwa ketika dirinya sendiri saja sudah merasakan masa depan yang suram, mengapa engkau tetap begitu percaya kepada ku?
Ternyata jawaban sang istri sangat polos dan sederhana.

Sang istri menjawab:
“Sebidang tanah, tidak cocok untuk menanam gandum, bisa dicoba menanam kacang, jika kacang pun tidak bisa tumbuh dengan baik, bisa ditanam buah-buahan; jika buah-buahan pun tidak bisa tumbuh, semaikan bibit gandum hitam pasti bisa berbunga. karena sebidang tanah, pasti ada bibit yang cocok untuknya, dan pasti bisa menghasilkan panen dari-Nya.”
Mendengar penjelasan sang istri, ia pun terharu mengeluarkan air mata. Keyakinan kuat, katabahan serta kasih sayang sang istri, bagaikan sebutir bibit yang unggul;
Semua prestasi pada dirinya, semua adalah keajaiban berkat bibit unggul yang kukuh sehingga tumbuh dan berkembang menjadi kenyataan.

Di dunia ini tidak ada seorang pun adalah sampah. hanya saja tidak ditempatkan di posisi yang tepat.
Setelah membaca cerita ini, jangan dibiarkan saja, sharing dan teruskan ke orang lain, Anda adalah orang yang berbahagia.

Delapan kalimat di bawah ini, semuanya adalah intisari kehidupan:
1. Orang yang tidak tahu menghargai sesuatu, biarpun diberi gunung emas pun tidak akan bisa merasakan kebahagiaan.
2. Orang yang tidak bisa toleransi, seberapa banyak teman pun, akhirnya semua akan meninggalkannya.
3. Orang yang tidak tahu bersyukur, seberapa pintar pun, tidak akan sukses.
4. Orang yang tidak bisa bertindak nyata, seberapa cerdas pun tidak akan tercapai cita-citanya.
5. Orang yang tidak bisa bekerjasama dengan orang lain, seberapa giat bekerja pun tidak akan mendapatkan hasil yang optimal.
6. Orang yang tidak bisa menabung, terus mendapatkan rejeki pun tidak akan bisa menjadi kaya.
7. Orang yang tidak bisa merasa puas, seberapa kaya pun tidak akan bisa bahagia.
8. Orang yang tidak bisa menjaga kesehatan, terus melakukan pengobatan pun tidak akan berusia panjang.




Sumber: http://intisari-online.com

Hamba Penuh Dosa

Yaa Allah ya Tuhanku Robb,  Ampunilah segala Dosa-dosa hambamu yang hina, bodoh yang tiada berdaya ini. Ampunilah Dosa-dosa kedua orang tua kami yang telah membesarkan dan mendidik kami sehinga kami bisa seperti ini. Berikanlah kami dan kedua orang tua kami umur yang panjang agar kami dapat berbakti dan membahagiakan mereka. Berikanlah kekuatan Iman dan Islam untuk selalu tunduk dan patuh menjalankan perintahmu. Berikanlah kami Rezeki yang halal dari arah yang tidak di sangka-sangka.

Ya Allah Robb semesta Alam. Kami yakin dan percaya apa yang terjadi hari ini, kemarin dan esok adalah ketepan di bawah pengaturanmu. Bahkan daun yang jatuh dan air yang mengalir merupakan ketentuan dari-Mu. Kami Bersyukur atas nikmat dan karunia yang telah engku anugrahkan kepada kami.

Berikanlah kami kesabaran dalam mejalankan peritah-Mu, bimbinglah kami ke jalan  lurus seperti orang-orang yang telah Engkau beri Nikmat. Jadikanlah keluarga kami keluarga yang saleh yang taat dan istiqomah menjalankan perintahmu. Tanpa bimbingan dan pertolonganmu kami tidak berdaya.

Yaa Allah Ya Robb. Kegelisahan ini adalah teguran darimu atas kelemahan hamba dalam menjalankan ketaatan kepada-Mu. Ketika kami bersujud dikaki mu dalam shalat, ketika membaca Al-Qur’an meneteskan air mata bukti kami lemah, bodoh dan tiada berdaya. Kepada siapa kami mengadu, kepada siapa kami memohon hanya kepada-Mu Ya Allah pencipta langit dan bumi yang mengatur apa yang ada di bumi dan dilangit.

Prilaku Anak sama seperti Orang tuanya

Allah SWT memerintahkan kepada orang tua untuk mendidik anaknya 100%. Sejak  zaman Nabi Adam AS  sampai masa tertentu (perkiraan sampai Nabi Ibrahim AS) belum ada sekolah.
Awalnya, suatu hal anak dititipkan kepada orang tua kerabatnya untuk diasuh. Inilah permulaan terjadinya sekolah, karena dimulai orang tua tidak bisa mengasuh anaknya sendiri. Pendidikan anak yang dilakukan bukan oleh orang tua ini berkembang tahap demi tahap sesuai dengan perkembangan zaman.  Akhirnya sekolah menjadi seperti sekarang.

Menengok sejarah sekolah ini seharusnya orang tua tetap berpengang  pada pringsip bahwa pendidikan utama adalah orang tua dan rumah adalah sekolah yang utama. Bahwasanya, anak-anak  mulai bayi baru lahir sampai aqil balig belajar 24 jam setiap hari, 7 hari setiap minggu, 30/31 hari setiap bulan dan sepanjang tahun. Jadi belajar bukan pada jam sekolah saja.

Orang tua harus merancang pendidikan anak secara menyeluruh dan menetapkan belajar bagian yang mana dilaksanakan oleh orang tua. Sehingga anak mendapat pendidikan yang lengkap. Tidak mungkin sekolah mampu mendidik anak tampa kerja sama dengan orang tua. Apa program sekolah harus dipelajari orang tua untuk diteruskan di rumah. Kalau program dirumah berbeda dengan program di sekolah maka anak akan bermasalah dalam membangun konsep pemikiran mereka.

Usia 0-2 tahun adalah usia yang kritis dan merupakan jendela Kesempatan, (The Window of Oppurtunity).  Pendidikan pada masa usia ini merupakan dasar seegala-galanya bagi anak dewasa nanti. Sel anak yang tak sempat tersambung pada usai ini akan menghilang pada program penghapusan yang berlangsung otomatis setelah usia 2 tahun. Sebab itu, Makanan bayi oleh Allah diletakan di dada ibu agar Ibu selalu dekat dengan anak untuk melakukan pendidikan dasar  yang bayi butuhkan selama 2 tahun.

Kata dan perbuatan, dan sikap-sikap mulia lainya harus ibu modelkan pada bayi sejak usia dini. Memperkenalkan Ayat-ayat al-quran sejak hamil dan dilanjutkan pada usia 0-2 tanun sangat penting dan mennetukan tingkat kecersasan anak nantinya. Kecerdasan berbanding lurus dengan beberapa ibu hatam membaca al-qur’an selama hamil.

Cara ibu menyusui, menamdikan, memakaikan pakaian  pada banyi akan menentukan karakter bayi. makanan yang bergizi, isyarat yang cukup, kebersihan serta program yang bermutu adalah hal yang penting dijaga oleh orang tua.

Bila anak sudah sekolah, maka dia punya dua tempat belajar: rumah dan sekolah. kegiatan anak pada dua tempat ini harus berkaitan dan berkesinambungan. Kalau anak pulang dari sekolah seharusnya orang tua menyambut anak dengan program sampai waktunya tidur. Mulai dengan sambutan dengan salam, mengajak anak meletakan sepatu, kaos kaki, tas dan perlengkapan lainya ditempat yang telah di tentukan.

Prilaku anak-anak disekolah itu persis seperti  yang dilakukan orang tuanya di rumah. Sebagai contoh ada todler usianya 22 bulan. Karena ibunya sering beres-beres , maka di sekolah jika sudah saatnya beres-beres toddler tersebut luar biasa. Setelah membaca buku-buku di rak dan tidak asal tumpuk. ia siapkan dulu tempatnya dengan cara di geser terlebih dahulu. Setiap ia memainkan mainan yang lain, maka ia kembalikan dulu mainan sebelumnya.

Apa yang dilakukan anak bersama orang tua itu. bekasnya betul-betul menempel di otak anak dan itu memimpin hidup ia berikutnya. Oleh karena itu, orang tua dan rumah menjadi sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Semoga uraian singkat ini dapat membantu orang tua untuk membangun makna orang tua bahwa kita begitu diberi anak oleh Allah itu sudah berarti kita mendapat perintah menjadi guru bagi anak kita.*

Moh. Khomaini


Bertemu dan Berpisah Karena Allah

Diriwayatkan dari Abu Huarairah bahwa seorang laki-laki berangkat mengunjungi saudaranya disebuah perkampungan yang jaraknya cukup jauh. Perjalanan itu harus melintasi bukit yang terjal. 

Tampa sepengetahuannya, Allah SWT mengirimkan Malaikat yang menyerupai manusia untuk menemani lelaki tersebut.

Ketika sampai di gerbang perkampungan tersebut, malaikat itu bertannya, “Wahai Saudaraku, engkau hendak kemana”? Jawab lelaki itu, “Saya hendak menemui saudaraku di kampung ini”
“Apakah karena engkau ingin membalas budi, sehinga engku datang jauh-jauh datang menemuinya? tannya Malaikat yang menyerupai manusia tersebut.

“Tidak, bukan karena hutang budi, juga bukan karena sesuatu lain. Hanya saja, saya mencitainya karena Allah SWT itu saja,”tegas lelaki itu.

Malaikat itu kemudian membuka jati dirinya, “Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah Yang Maha Penyayang untuk mengatakan kepadamu bahwa Allah SWT telah mencitaimu kerena cita tulusmu kepada saudaramu seiman.” Hadis Ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

$yJ¯RÎ) tbqãZÏB÷sßJø9$# ×ouq÷zÎ) (#qßsÎ=ô¹r'sù tû÷üt/ ö/ä3÷ƒuqyzr& 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ÷/ä3ª=yès9 tbqçHxqöè? ÇÊÉÈ  

Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. Al-Hujurat Ayat 10.

Salah satu sifat utama seorang mukmin adalah rasa cinta yang medalam kepada saudaranya. Sebuah cinta yang tulus dan murni, tampa dorongan dan motif apapun. Tidak ada kepentingan, kecuali semata-mata karena ingin mencintai, itulah persahabatan sejati.

Ukhuwah semacam ini tidak saja kuat, tapi juga akan abadi. Tidak hanya mengokohkannya di dunia, tapi juga mengantarkannya di surga. Persahabatan ruhani ini akan membawa ketentraman hati, sekaligus keamanan lahir batin.

Allah SWT menyiapkan 3 buah kenikmatan bagi mereka yang bersaudara Allah. Pertama, mereka akan mendapatkan”khalawatul Iman” Kelezatan Iman. Kelezatan anggur, Apel dan buah kelengkeng sudah luar biasa, apalagi dengan klelezatan iman. Inilah yang dijanjikan Rasulullah SAW kepada mereka yang bersaudara karena Allah.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Bersabda “tiga perkara, siapa yang ada padanya maka ia akan merasakan manisnya iman; orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lain, orang yang mencintai seseorang hanya karena Allah, dan orang yang membenci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya sebagaiman ia benci jika dilemparkan ke neraka.”  (Bukhari dan Muslim)

Kedua, mereka akan mendapatkan surga. orang yang mencintai saudaranya karena Allah akan diberi kedudukan yang istimewa di surga. Mereka mendapatkan kedudukan yang tinggi dan derajat yang mulia.

Ketiga, Mereka mendapatkan tempat yang luar biasa. tidak sekedar masuk surga, tapi di sana Allah akan menyiapkan suatu mimbar khusus cahaya. 

Rasulullah bersabda dalam hadist Qudsi Allah Berfirman, “Orang-orang yang mencintai karena Kemualiaan-ku maka bagi mereka mimbar dari cahaya, dimana para nabi dan syuhada merasa iri dengannya.”(Turmudzi)

Foto: Muh. Khomaini

Mendidik Aqidah

Aqidah dalam islam adalah sesuatu yang ghaib. Kadang tidak mudah mengenalkan kepada anak-anak tentang Allah Subhanahu wa ta’ala, para malaikat, kitab-kitab-Nya, rasul-Nya, hari kiamat serta ketentuan dan takdir yang dialaminya.

Padahal aqidah harus ditanamkan kepada anak-anak semenjak permulaan pertumbuhannya.  Anak-anak perlu dibimbing untuk menghafalnya. Sedikit demi sedikit kemudian diarahkan agar memahami makana. Berikutnya diharapakan bisa meyakini dan membenarkanya.

Bagaimanan caranya? ada beberapa resep dari Imam Al-Ghazali. Yaitu bukan dengan mengajarkan dan berdebat tapi dengan meyibukkan membaca Al-Qur’an dan mempelajari tafsirnya. Mempelajari hadits dan maknanya serta menyibukkan dengan aktivitas ibadah.

“Dengan cara itu, aqidah anak akan semakin kokoh dengan apa yang tergambar dalam Al-Qur’an, dengan berbagai bukti dan pelajaran dari hadist, serta dengan apa yang dikerjakan dalam aktifitas ibadah”

Diriwayatkan oleh al-Hakim dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu Rasulullah shallallahu’alai wa sallam bersabda ajarkanlah kalimat pertama kepada anak-anak kalian Laa Ilaha Illallah, dan Talqinkan ketika akan meningggal dengan kalimat Laa Ilaha Illallah.

Itulah pedoman bagi orang tua yang telah ditunjukan orang tua terhebat sepanjang masa . Nabi Muhammad tuntunan yang pasti benar adanya.

Hendaknya yang masuk pertama kali dalam telingan anak-anak adalah pengenalan terhadap Allah dan mentauhidkannya. Bahwa Allah itu berada di atas ‘Arsy maha melihat maha mendengar, dan selalu bersama mereka (anak-anak) dimanapun mereka berada.

Cinta kepada Rasulullah dengan dasar tauhid, insya Allah anak-anak akan bisa mempaktikan baris kedua kalimat Syahadat: Muhammad Rasulullah Generasi Salafush-salih punya perhatian besar dalam menanamkan kecintaan kepada Nabi di dalam sanubari Anak-Anak.

Demikian sepengal cuplikan dari majalah Suara Hidayatullah pada edisi Khusus yang terbit persemester ini, semoga hadirnya Karima menjadi bacaan wajib para orang tua dalam mendidik putra-putrinya menjadi generasi Robbani. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta berbakti kepada ke dua orang tuanya dan menjadi panutan ummat.

Dapatkan  Majalah suara Hidayatullah Edisi Kuhus Karima, MENDIDIK ANAK CARA NABI, Agar anak cerdas dunia-akhirat. RUMAHKU MADRASAH PERTAMAKU, Anak Pengahafal Al-Qur’na lebih Cerdas. MENUJU PENDIDIKAN BERTAHUD.

Pulau Jawa : 23.000 Belum Termasuk Ongkos Kirim
Luar Jawa   : 25.000 Belum Termasuk Ongkos Kirim

Silahkan menghubungi Kami didistributor majalah Suara Hidayatullah dan edisi Khusus KARIMA
0813 6655 4740
Feks: 021-8790 9613 Untuk Bukti Tranfer Atau email: mohammadkhomaini@gmail.com


Rekenig Atas Nama         : M. KHUMAINI
Bank Syariah Mandiri      : 7044 3430 98
Mandiri                            : 110 00 0464323 2
Muamalat                         : 318000 2080
BRI                                  : 3552 01 013434 53 1


‘Sepuluh Tahun Aku Membenci Suamiku’

KISAH di bawah ini beredar di berbagai forum, fanpage facebook, dan blog. Entah siapa yang menuliskannya, namun satu hal yang pasti, kita bisa memetik pelajaran sangat banyak darinya. Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senan g dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya .
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas.
Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat, kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon.
Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi.
Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “Selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera.
Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya.
Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama.
Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat.
Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai.
Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu.
Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana.
Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikanny a, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah
karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas.
Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya.
Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya , tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikanny a atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Muh. Khumaini
Dunia Perempuan
IslamPOS

Rezeki dan Jodoh



Rezeki kita sudah tertulis di Lauhul Mahfuzh. Mau diambil lewat jalan halal ataukah haram, dapatnya segitu juga. Yang beda rasa berkahnya. Jodoh kita juga sudah tertulis Allah di Lauhul Mahfuzh. Mau diambil lewat jalan halal ataukah haram, dapatnya itu juga. Yang beda rasa berkahnya. Keduanya bukan tetang apa, berapa atau siapa; tapi bagaimana Allah memberikannya; diulurkan lembut dan mesra atau dilempar penuh murka? Maka layaklah diri dihadapan-Nya untuk dianugerahi rezeki dan jodoh dalam serah terima paling sakral; mesra, penuh cinta, berkah dan makna.

Rezeki dan jodoh di tangan Allah. Itulah keyakinan yang saya yakini untuk menikuti pernikahan Mubarak 16 Juni 2013 setahun yang lalu di pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapapn Kalimantan Timur. Tampa mengenal calon mempelai sebelumnya sama-sekali, dari mana, namanya siapa, tidak ada gambaran sedikitpun semuanya aku diserahkan kepada panitia dan tawakal merupakan penyerahan secara total akan menjadi jaminal yang kekal.  

Menikah disini ialah menikah perjuangan, perserta yang mengikuti dikarantina selama 1 bulan untuk dibekali kesiapan dalam mengarugi mahligai rumah tangga, seperti adab pasutri, menbimbing dan mendidik anak dan istri. Namun bukan itu saja kami juga harus bekerja membersikan empag selama 2 minggu, kerja bangunan, merapikan kampus dan yang paling berkesan adalah 1 minngu sebelum hari H mengali kubur kebetulan ada waga kampus yang meningggal dan kami diharuskan mempersipapkan pemakaman. 

Ikhtiyar dan doa, mengiba mendekatkan keduanya.  Karena setiap orang memiliki jodohnya. Jika takdir dunia tak menyatukan atau malah mendekatkan pada yang tak sejalan; surga kelak mempertemukan. Karena wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). 

Kenapa sih orang selalu takut untuk mengambil keputusan? Padahal tidak pernah ada sesuatu yang pasti di dunia ini. Artinya, keputusan apapun yang di ambil resikonya relatif sama, artinya sama-sama nggak pasti juga. Yang pasti itu cuma satu, kita pasti mati, itupun nggak jelas kapan waktunya.

Dalam mengabil keputusan ini orang tua kamilah yang meridhoi atas keputusan ini, tampa meraka kami tidak bisa berbuat banyak. Secerdas apapun kita, doa orangtua lebih dahsyat dari pada kecerdasan kita, sekaya apapun kita, ridha orangtua lebih dahsyat daripada kekayaan kita. karena berbakti mengundang rezeki, durhaka mengundang petaka.

Akhirnya kami diperjodohkan dengan seorang wanita asal Manado, Sulawesi Utara yang bernama Annisa Sabrina pada ikatan suci di Masjid Ar-Riyad. Usai shalat Zuhur saya baru di pertemukan dengan istri di antar oleh panitia.

Pada saat pertama ketemu subhanallah perasan dalam diri bercampur aduk tiada pasti cemas, galau dan masih banyak perasaan yang tak dapat di urai disini. Kemudian ku beranikan diri sesuai sunah nabi meletakkan tangan di kenig istri sambil berdoa:

 “Allahumma Innii Asaluka min khoiriha wa khoiri ma jabaltaha. Wa audzu bika min syarri ma jabaltaha alaih—Wahai Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan dari apa yang engkau berikan kepadanya serta aku berlindung kepda-Mu dari pada keburukannya dan keburukan yang engkau berikan kepadanya.” Ketika tanggan ini telah sampai di kenig wanita yang pertama ku lihat terasa berat bahkan bergetar jari dan siku tangan untuk di gerakkan. Kami, orangtua dan menyaksikan terharu atas pertemuan ini terlihat dari butiran kristal yang mengalir dikelopak matanya.

Menikah itu menentramkan...Pacaran? Menggalaukan. Nikmat manakah yang kamu dustakan? seraya menmanjatkan syukur. Menariknya, syukur itu menyehatkan, bikin awet muda dan bikin panjang umur, enggan bersyukur? Dekat dengan kufur selalu bersyukur? Akan bernasib mujur.

Kami bersyukur atas karunia yang telah Allah berikan kepada kami. Semua biaya prosesi pernikahan dan transpot sekikitpun tampa merepotkan kedua orang tua termasuk perabotan rumah tangga. Karena bertemu dengan jodoh, itu rezeki, memiliki rumahtangga, itu pun rezeki. Keluarga, bukanlah beban. Justru keluargalah yang meringankan beban-beban kita.a

Kini kami telah dikarunia seorang putra pada 19 April 2014 yang kami beri nama Ahmeed Iffat Mudzakkir. Ketika sebagian orang pada saat mau persalinan istri dibawa pulang ke tempat orangtua ataupun mertua. Ada yang merasa takut, repot, belum punya pengalaman dan masih banyak lagi alasan klasik lainnya.

Bagi kami semuanya di jalani hanya berdua (suami istri) karena Allah di Jambi, Manado sama dengan Allah di Jakarta. Begitu juga dalam mendidik dan membesarkanya. Saya dan istri berkomitmen untuk tidak merepotkan orang tua, Karena begitu besar jasanya sehingga kami bisa seperti ini. Komitmen itu lebih keren daripada tampan dan tanggung jawab itu lebih mantap daripada mapan. Kepatuhan itu lebih berarti dari cantik dan kelemah lembutan itu yang paling menarik.

Disaat mendapat masalah genting kami berusaha untuk selalu menjadikan sabar sebagai 'penolong'. Seringkali ketika kita sabar dan ikhlas terhadap suatu masalah, solusi pun hadir seketika. Rezeki akan tercurah pada mereka yang mau berubah dan sungguh-sungguh melangkah. Memperbaiki diri akan membaikkan rezeki, nasib. biasanya sesuai kepantasan dirimu. Mau dapat yang baik? Yah, perbaiki dirimu.

Semoga Allah selalu mencurahkan ketentraman pada keluarga dan rumahtangga serta kita semua bisa menjadi anak yang berhasil membuat orangtuanya bangga & bahagia Aamiin...

Kisah Mendalam
Muh. Khumaini

Ingin ngobrol dengan saya? Follow aja di twitter:https://twitter.com/ronydarmawan3


 
Copyright © 2013. Mr. Pinter - All Rights Reserved
Template Created by ThemeXpose