Paradigma News

Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Istri yang Bijaksana

Ada seorang pria, tidak lolos ujian masuk universitas, orang tuanya pun menikahkan ia dengan seorang wanita. Setelah menikah, ia mengajar di sekolah dasar. Karena tidak punya pengalaman, maka belum satu minggu mengajar sudah dikeluarkan.

Setelah pulang ke rumah, sang istri menghapuskan air mata nya, menghiburnya dengan berkata: “Banyak ilmu di dalam otak, ada orang yang bisa menuangkannya, ada orang yang tidak bisa menuangkannya. Tidak perlu bersedih karena hal ini. mungkin ada pekerjaan yang lebih cocok untukmu sedang menantimu.”
Kemudian, ia pergi bekerja keluar, juga dipecat oleh bosnya, karena gerakannya yang lambat.
Saat itu sang istri berkata padanya, kegesitan tangan-kaki setiap orang berbeda, orang lain sudah bekerja beberapa tahun lamanya, dan kamu hanya belajar di sekolah, bagaimana bisa cepat?
Kemudian ia bekerja lagi di banyak pekerjaan lain, namun tidak ada satu pun, semuanya gagal di tengah jalan.

Namun, setiap kali ia pulang dengan patah semangat, sang istri selalu menghiburnya, tidak pernah mengeluh.
Ketika sudah berumur 30 tahun-an, ia mulai dapat berkat sedikit melalui bakat berbahasanya, menjadi pembimbing di sekolah luar biasa tuna rungu wicara.

Kemudian, ia membuka sekolah siswa cacat, dan akhirnya ia bisa membuka banyak cabang toko yang menjual alat-alat bantu orang cacat di berbagai kota.

Ia sudah menjadi bos yang memiliki harta kekayaan berlimpah.
Suatu hari, ia yang sekarang sudah sukses besar, bertanya kepada sang istri, bahwa ketika dirinya sendiri saja sudah merasakan masa depan yang suram, mengapa engkau tetap begitu percaya kepada ku?
Ternyata jawaban sang istri sangat polos dan sederhana.

Sang istri menjawab:
“Sebidang tanah, tidak cocok untuk menanam gandum, bisa dicoba menanam kacang, jika kacang pun tidak bisa tumbuh dengan baik, bisa ditanam buah-buahan; jika buah-buahan pun tidak bisa tumbuh, semaikan bibit gandum hitam pasti bisa berbunga. karena sebidang tanah, pasti ada bibit yang cocok untuknya, dan pasti bisa menghasilkan panen dari-Nya.”
Mendengar penjelasan sang istri, ia pun terharu mengeluarkan air mata. Keyakinan kuat, katabahan serta kasih sayang sang istri, bagaikan sebutir bibit yang unggul;
Semua prestasi pada dirinya, semua adalah keajaiban berkat bibit unggul yang kukuh sehingga tumbuh dan berkembang menjadi kenyataan.

Di dunia ini tidak ada seorang pun adalah sampah. hanya saja tidak ditempatkan di posisi yang tepat.
Setelah membaca cerita ini, jangan dibiarkan saja, sharing dan teruskan ke orang lain, Anda adalah orang yang berbahagia.

Delapan kalimat di bawah ini, semuanya adalah intisari kehidupan:
1. Orang yang tidak tahu menghargai sesuatu, biarpun diberi gunung emas pun tidak akan bisa merasakan kebahagiaan.
2. Orang yang tidak bisa toleransi, seberapa banyak teman pun, akhirnya semua akan meninggalkannya.
3. Orang yang tidak tahu bersyukur, seberapa pintar pun, tidak akan sukses.
4. Orang yang tidak bisa bertindak nyata, seberapa cerdas pun tidak akan tercapai cita-citanya.
5. Orang yang tidak bisa bekerjasama dengan orang lain, seberapa giat bekerja pun tidak akan mendapatkan hasil yang optimal.
6. Orang yang tidak bisa menabung, terus mendapatkan rejeki pun tidak akan bisa menjadi kaya.
7. Orang yang tidak bisa merasa puas, seberapa kaya pun tidak akan bisa bahagia.
8. Orang yang tidak bisa menjaga kesehatan, terus melakukan pengobatan pun tidak akan berusia panjang.




Sumber: http://intisari-online.com

Hamba Penuh Dosa

Yaa Allah ya Tuhanku Robb,  Ampunilah segala Dosa-dosa hambamu yang hina, bodoh yang tiada berdaya ini. Ampunilah Dosa-dosa kedua orang tua kami yang telah membesarkan dan mendidik kami sehinga kami bisa seperti ini. Berikanlah kami dan kedua orang tua kami umur yang panjang agar kami dapat berbakti dan membahagiakan mereka. Berikanlah kekuatan Iman dan Islam untuk selalu tunduk dan patuh menjalankan perintahmu. Berikanlah kami Rezeki yang halal dari arah yang tidak di sangka-sangka.

Ya Allah Robb semesta Alam. Kami yakin dan percaya apa yang terjadi hari ini, kemarin dan esok adalah ketepan di bawah pengaturanmu. Bahkan daun yang jatuh dan air yang mengalir merupakan ketentuan dari-Mu. Kami Bersyukur atas nikmat dan karunia yang telah engku anugrahkan kepada kami.

Berikanlah kami kesabaran dalam mejalankan peritah-Mu, bimbinglah kami ke jalan  lurus seperti orang-orang yang telah Engkau beri Nikmat. Jadikanlah keluarga kami keluarga yang saleh yang taat dan istiqomah menjalankan perintahmu. Tanpa bimbingan dan pertolonganmu kami tidak berdaya.

Yaa Allah Ya Robb. Kegelisahan ini adalah teguran darimu atas kelemahan hamba dalam menjalankan ketaatan kepada-Mu. Ketika kami bersujud dikaki mu dalam shalat, ketika membaca Al-Qur’an meneteskan air mata bukti kami lemah, bodoh dan tiada berdaya. Kepada siapa kami mengadu, kepada siapa kami memohon hanya kepada-Mu Ya Allah pencipta langit dan bumi yang mengatur apa yang ada di bumi dan dilangit.

Tanpa pacaran, 49 pasangan dinikahkan massal di Balikpapan


Sebanyak 49 santri Hidayatullah mengikuti prosesi acara Pernikahan Mubarak Nasional Hidayatullah (PMNH) yang diselenggarakan Pondok Pesantren Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim. Acara itu digelar Minggu (16/6) kemarin.

Pernikahan massal ini merupakan rangkaian acara menyongsong Silaturrahim Nasional (Silatnas) yang bertepatan dengan usia ke-40 tahun lembaga yang concern di bidang dakwah, pendidikan, dan sosial ini.

Kegiatan yang telah menjadi tradisi Hidayatullah ini diikuti oleh peserta putra dan putri dari perwakilan dari seluruh nusantara.

Dalam siaran pers yang diterima merdeka.com, ketua panitia pelaksana acara, Abdul Ghofar Hadi, mengatakan peserta ada yang berasal dari dari Kabupaten Nabire (Papua) Medan (Sumatera Utara), Bali, Sulawesi, Kupang, Jawa Timur, Provinsi Jambi, Manado, Jawa Barat, dan lainnya.

Adapun usia peserta laki-laki, kata Ghofar, yang paling muda adalah 22 tahun, sementara peserta putri 18 tahun.

"Usai pernikahan, selanjutnya akan ada program Peluncuran Dai Nusantara saat Silatnas Hidayatullah yang diikuti oleh para pengantin," kata Ghofar.

Dia menambahkan, seluruh peserta pernikahan Mubarak ini, sebagaimana gelaran serupa yang telah dilakukan sebelum-sebelumnya, semua masih berstatus bujang dan gadis.

Jika umumnya menikah harus mengeluarkan biaya mahal untuk mahar, resepsi acara, dan sejumlah pernak-pernik lainnya yang tak jarang sangat memberatkan mempelai, pernikahan mubarak Hidayatullah justru semaksimal mungkin meringankan peserta.

"Peserta menyerahkan dua juta rupiah. Jumlah itu sudah termasuk mahar, pakaian masing-masing kedua mempelai, pengurusan surat-surat administrasi ke KUA, dan konsumsi pembinaan pra nikah peserta selama 15 hari," jelas Ghofar.

Acara ini dihadiri ribuan undangan termasuk keluarga peserta mempelai pengantin. Hadir pula Walikota Balikpapan Rizal Effendi, anggota DPRD Kaltim Sofjan Alex dan Darlis Pattolongi.

Anggota Dewan Pengarah, Ustaz H Abdul Qadir Jailani, mengatakan tugas memasangkan puluhan calon mempelai jelas bukanlah pekerjaan ringan. Itulah mengapa, kata dia, tim SC yang ditunjuk merupakan orang-orang berpengalaman yang juga mayoritas kader pendahulu Hidayatullah.

"Ada penelusuran peserta dari aspek pemahaman keislaman, kehidayatullahan, pernikahan, dan kepribadian. Semua peserta harus melawati proses ini. Ada 2 tim yang menangani ini," jelas Abdul Qadir.

Tujuan penelusuran, lanjutnya, semata-mata untuk mengetahui kesiapan dan persiapan peserta sebagai imam di rumah kelak, serta sebagai ajang seleksi peserta.

Hidayatullah yang berdiri 3 Maret 1976 ini memang tak bisa dilepaskan dari tradisi pernikahan massal. Bahkan, budaya pernikahan massal Islami tanpa pacaran di Indonesia sejatinya dipopulerkan pertama kali oleh Hidayatullah.

Menurut catatan resmi, awal kali pernikahan massal mubarak Hidayatullah digelar pada 6 Maret 1977 yang diikuti oleh 2 pasang santri yaitu Abdul Qadir Jailani dengan Nurhayati dan Sarbini Nasir dengan Salmiyah. Kala itu, karena keterbatasan biaya, jamuan resepsi yang dihidangkan sangat sederhana berupa nasi dan sayur gambas.

Setelah yang pertama, tradisi itu terus berlanjut mulai dari 4 hingga puluhan pasang. Puncaknya adalah saat Hidayatullah menggelar pernikahan serupa sebanyak 100 pasang santri tahun 1997 yang dihadiri oleh BJ Habibie dan sejumlah tokoh nasional lainnya masa itu.

Walikota Balikpapan Rizal Effendi mengatakan, kegiatan tersebut layak menjadi kritik bagi masyarakat modern yang justru kerap mengalami masalah krusial kerumahtanggaan.

"Ini menjadi otokritik bagi pagelaran pernikahan kita yang selama ini katanya modern, ternyata juga banyak masalah-masalah yang dihadapi," kata Rizal Effendi ditemui saat menghadiri acara Pernikahan Mubarak Hidayatullah di Balikpapan, Ahad kemarin.

Rizal memandang tradisi Pernikahan Mubarak sebagai sesuatu yang sangat luar biasa dan menjadi teladan bagi kita semua. "Ini sesuatu yang sakral, dan mulia," ungkapnya.

Merdeka.com
http://www.merdeka.com/peristiwa/tanpa-pacaran-49-pasangan-dinikahkan-massal-di-balikpapan.html

Prilaku Anak sama seperti Orang tuanya

Allah SWT memerintahkan kepada orang tua untuk mendidik anaknya 100%. Sejak  zaman Nabi Adam AS  sampai masa tertentu (perkiraan sampai Nabi Ibrahim AS) belum ada sekolah.
Awalnya, suatu hal anak dititipkan kepada orang tua kerabatnya untuk diasuh. Inilah permulaan terjadinya sekolah, karena dimulai orang tua tidak bisa mengasuh anaknya sendiri. Pendidikan anak yang dilakukan bukan oleh orang tua ini berkembang tahap demi tahap sesuai dengan perkembangan zaman.  Akhirnya sekolah menjadi seperti sekarang.

Menengok sejarah sekolah ini seharusnya orang tua tetap berpengang  pada pringsip bahwa pendidikan utama adalah orang tua dan rumah adalah sekolah yang utama. Bahwasanya, anak-anak  mulai bayi baru lahir sampai aqil balig belajar 24 jam setiap hari, 7 hari setiap minggu, 30/31 hari setiap bulan dan sepanjang tahun. Jadi belajar bukan pada jam sekolah saja.

Orang tua harus merancang pendidikan anak secara menyeluruh dan menetapkan belajar bagian yang mana dilaksanakan oleh orang tua. Sehingga anak mendapat pendidikan yang lengkap. Tidak mungkin sekolah mampu mendidik anak tampa kerja sama dengan orang tua. Apa program sekolah harus dipelajari orang tua untuk diteruskan di rumah. Kalau program dirumah berbeda dengan program di sekolah maka anak akan bermasalah dalam membangun konsep pemikiran mereka.

Usia 0-2 tahun adalah usia yang kritis dan merupakan jendela Kesempatan, (The Window of Oppurtunity).  Pendidikan pada masa usia ini merupakan dasar seegala-galanya bagi anak dewasa nanti. Sel anak yang tak sempat tersambung pada usai ini akan menghilang pada program penghapusan yang berlangsung otomatis setelah usia 2 tahun. Sebab itu, Makanan bayi oleh Allah diletakan di dada ibu agar Ibu selalu dekat dengan anak untuk melakukan pendidikan dasar  yang bayi butuhkan selama 2 tahun.

Kata dan perbuatan, dan sikap-sikap mulia lainya harus ibu modelkan pada bayi sejak usia dini. Memperkenalkan Ayat-ayat al-quran sejak hamil dan dilanjutkan pada usia 0-2 tanun sangat penting dan mennetukan tingkat kecersasan anak nantinya. Kecerdasan berbanding lurus dengan beberapa ibu hatam membaca al-qur’an selama hamil.

Cara ibu menyusui, menamdikan, memakaikan pakaian  pada banyi akan menentukan karakter bayi. makanan yang bergizi, isyarat yang cukup, kebersihan serta program yang bermutu adalah hal yang penting dijaga oleh orang tua.

Bila anak sudah sekolah, maka dia punya dua tempat belajar: rumah dan sekolah. kegiatan anak pada dua tempat ini harus berkaitan dan berkesinambungan. Kalau anak pulang dari sekolah seharusnya orang tua menyambut anak dengan program sampai waktunya tidur. Mulai dengan sambutan dengan salam, mengajak anak meletakan sepatu, kaos kaki, tas dan perlengkapan lainya ditempat yang telah di tentukan.

Prilaku anak-anak disekolah itu persis seperti  yang dilakukan orang tuanya di rumah. Sebagai contoh ada todler usianya 22 bulan. Karena ibunya sering beres-beres , maka di sekolah jika sudah saatnya beres-beres toddler tersebut luar biasa. Setelah membaca buku-buku di rak dan tidak asal tumpuk. ia siapkan dulu tempatnya dengan cara di geser terlebih dahulu. Setiap ia memainkan mainan yang lain, maka ia kembalikan dulu mainan sebelumnya.

Apa yang dilakukan anak bersama orang tua itu. bekasnya betul-betul menempel di otak anak dan itu memimpin hidup ia berikutnya. Oleh karena itu, orang tua dan rumah menjadi sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Semoga uraian singkat ini dapat membantu orang tua untuk membangun makna orang tua bahwa kita begitu diberi anak oleh Allah itu sudah berarti kita mendapat perintah menjadi guru bagi anak kita.*

Moh. Khomaini


Bertemu dan Berpisah Karena Allah

Diriwayatkan dari Abu Huarairah bahwa seorang laki-laki berangkat mengunjungi saudaranya disebuah perkampungan yang jaraknya cukup jauh. Perjalanan itu harus melintasi bukit yang terjal. 

Tampa sepengetahuannya, Allah SWT mengirimkan Malaikat yang menyerupai manusia untuk menemani lelaki tersebut.

Ketika sampai di gerbang perkampungan tersebut, malaikat itu bertannya, “Wahai Saudaraku, engkau hendak kemana”? Jawab lelaki itu, “Saya hendak menemui saudaraku di kampung ini”
“Apakah karena engkau ingin membalas budi, sehinga engku datang jauh-jauh datang menemuinya? tannya Malaikat yang menyerupai manusia tersebut.

“Tidak, bukan karena hutang budi, juga bukan karena sesuatu lain. Hanya saja, saya mencitainya karena Allah SWT itu saja,”tegas lelaki itu.

Malaikat itu kemudian membuka jati dirinya, “Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah Yang Maha Penyayang untuk mengatakan kepadamu bahwa Allah SWT telah mencitaimu kerena cita tulusmu kepada saudaramu seiman.” Hadis Ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

$yJ¯RÎ) tbqãZÏB÷sßJø9$# ×ouq÷zÎ) (#qßsÎ=ô¹r'sù tû÷üt/ ö/ä3÷ƒuqyzr& 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ÷/ä3ª=yès9 tbqçHxqöè? ÇÊÉÈ  

Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. Al-Hujurat Ayat 10.

Salah satu sifat utama seorang mukmin adalah rasa cinta yang medalam kepada saudaranya. Sebuah cinta yang tulus dan murni, tampa dorongan dan motif apapun. Tidak ada kepentingan, kecuali semata-mata karena ingin mencintai, itulah persahabatan sejati.

Ukhuwah semacam ini tidak saja kuat, tapi juga akan abadi. Tidak hanya mengokohkannya di dunia, tapi juga mengantarkannya di surga. Persahabatan ruhani ini akan membawa ketentraman hati, sekaligus keamanan lahir batin.

Allah SWT menyiapkan 3 buah kenikmatan bagi mereka yang bersaudara Allah. Pertama, mereka akan mendapatkan”khalawatul Iman” Kelezatan Iman. Kelezatan anggur, Apel dan buah kelengkeng sudah luar biasa, apalagi dengan klelezatan iman. Inilah yang dijanjikan Rasulullah SAW kepada mereka yang bersaudara karena Allah.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Bersabda “tiga perkara, siapa yang ada padanya maka ia akan merasakan manisnya iman; orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lain, orang yang mencintai seseorang hanya karena Allah, dan orang yang membenci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya sebagaiman ia benci jika dilemparkan ke neraka.”  (Bukhari dan Muslim)

Kedua, mereka akan mendapatkan surga. orang yang mencintai saudaranya karena Allah akan diberi kedudukan yang istimewa di surga. Mereka mendapatkan kedudukan yang tinggi dan derajat yang mulia.

Ketiga, Mereka mendapatkan tempat yang luar biasa. tidak sekedar masuk surga, tapi di sana Allah akan menyiapkan suatu mimbar khusus cahaya. 

Rasulullah bersabda dalam hadist Qudsi Allah Berfirman, “Orang-orang yang mencintai karena Kemualiaan-ku maka bagi mereka mimbar dari cahaya, dimana para nabi dan syuhada merasa iri dengannya.”(Turmudzi)

Foto: Muh. Khomaini

Fitrah Ilahiyah Insan


Dalam sebuah riwayat dikisahkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) suatu hari memanggil seorang pemuda miskin berkulit hitam. Ia belum menikah meski usianya sudah mulai beranjak tua. Rupanya, dengan keadaannya itu, ia tak percaya diri untuk melamar seorang gadis.

Nama pemuda itu Julaibib. Tak banyak yang mengenal nama itu. Meski miskin, ia pemuda yang saleh. Karena itulah Rasulullah SAW menyayangi pemuda itu.

Setelah pemuda itu datang menghadap, Rasulullah SAW bertanya, mengapa ia belum juga menikah? Dengan tersipu-sipu pemuda itu menjelaskan keadaannya.

Rasulullah SAW kemudian menawarkan untuk mencari wanita yang cocok untuknya. Tentu saja Julaibib tidak menolak.

Tak lama kemudian Rasulullah SAW melamarkan seorang gadis cantik dari kaum Anshar untuk Julaibib. Ayah sang gadis mulanya tak langsung menerima lamaran tersebut. Katanya, “Ya Rasulullah, aku akan meminta persetujuan ibunya dulu.”

Rasulullah SAW mengizinkan. Lalu, ayah sang gadis pergi menemui istrinya. Betapa kagetnya sang istri manakala mengetahui laki-laki yang ditawarkan Rasulullah SAW adalah Julaibib. Ia tahu persis bagaimana keadaan pemuda itu.

“Tidak! Demi Allah, saya bersumpah mengatakan tidak. Apa Rasulullah tidak mendapatkan pemuda lain selain Julaibib? Padahal kita telah menolak lamaran dari fulan dan fulan?” katanya.

Di balik tirai, si gadis mendengar semua percakapan kedua orang tuanya. Ketika ayahnya hendak pergi menyampaikan hasil musyawarahnya kepada Rasul SAW, gadis itu keluar dari kamarnya. Ia berkata kepada kedua orangtuanya, “Apakah ayah dan ibu ingin mengembalikan urusan itu kepada Rasulullah? Jika beliau telah ridha maka nikahkan saja pemuda itu denganku.”

Rupanya gadis salehah itu telah mengabaikan keberatan kedua orang tuanya. Dengan penuh keyakinan ia menyatakan bersedia menikah dengan Julaibib dan menerima segala kekurangannya.

Mendengar perkataan sang anak, kedua orangtua itu tersadar. Ayahnya berkata, “Engkau benar anakku.”Lalu pergilah ayah gadis itu menemui Rasulullah SAW dan berkata, “Jika Rasulullah telah ridha maka kami pun ridha.” Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Sesungguhnya aku telah ridha.” Maka menikahlah pemuda berkulit hitam yang miskin itu dengan gadis rupawan pilihan Rasulullah SAW.

Tak lama kemudian datang seruan jihad dari Rasulullah SAW menghadapi kaum kafir. Julaibib ikut menyambut seruan itu, berangkat ke medan perang bersama Rasulullah SAW dan para Sahabat.

Setelah perang usai, Rasulullah SAW dan para Sahabat mendapati Julaibib telah terbunuh. Di sekelilingnya bergelimpangan mayat tujuh orang musyrik yang telah ia bunuh.
Rasulullah SAW berkata, “Ia (Julaibib) termasuk golonganku dan aku termasuk golongannya.”

Beliau sampai mengulang perkataan ini hingga tiga kali, lalu mengangkat dan memanggul jasad Julaibib, kemudian menguburkannya.

Sepeninggal Julaibib, sang isteri yang ditinggalkannya tetap istiqamah meneruskan perjuangan suaminya menjalankan syariat Allah Ta’ala. Anas bin Malik berkata, ”Sungguh aku lihat di kemudian hari wanita itu termasuk orang yang paling banyak bersedekah di kota Madinah.”

Fitrah Ilahiyah
Kisah di atas memberikan gambaran kepada kita sikap dua insan yang sama-sama mendahulukan iman daripada yang lain. Sang gadis bahkan lebih cinta kepada Rasulullah SAW dibanding kedua orang tuanya, bahkan dirinya sendiri.

Keduanya mendapatkan kemuliaan di sisi manusia dan di sisi Allah Ta’ala. Di hadapan manusia, kebaikan keduanya dikenang sepanjang masa. Sedang di sisi Allah Ta’ala, keduanya mendapatkan sebaik-baik tempat, yaitu surga. Itulah fitrah Ilahiyah.

Fitrah ini telah ada pada diri manusia sejak ruh ditiupkan sebelum manusia lahir. Karena fitrah iniah manusia merasa butuh kepada Tuhannya. Manusia selalu mencari sesuatu yang akan disembah, dimintai pertolongan, dan tempat menyandarkan semua persoalan dirinya.
Fitrah ini berlaku universal tanpa terkecuali. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, manusia akan gelisah, bimbang, dan merasa hampa.

Firman Allah Ta’ala,  
”Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (Ali Imran [3]: 83)

Iman Landasan Pokok
Segala amalan tidak akan ada artinya bila tidak dilandasi oleh iman kepada Allah Ta’ala dan mengharapkan keridhaan-Nya. Berapa pun banyaknya amal manusia, jika ia bukan seorang Muslim dan tidak dilakukan dengan ikhlas, Allah Ta’ala tidak akan menerimanya.

Firman Allah Ta’ala: ”Dan orang-orang yang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatangi air itu, dia tidak mendapati sesuatu apapun.” (An-Nur [24]: 39)

Ketika Rasulullah SAW ditanya amal apa yang paling utama dalam Islam, beliau menjawab, ”Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Pada kesempatan lain beliau memberi jawaban yang hampir sama, “Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.”Ketika menjelaskan tentang iman dan cabang-cabangnya, beliau bersabda, ”Yang paling utama adalah kalimat Laa ilaha illallah.”

Walaupun jawaban beliau berbeda-beda, tetapi intinya sama, yaitu mentauhidkan Allah Ta’ala. Itulah amalan paling utama seorang mukmin. Tanpa mentauhidkan Allah Ta’ala, amalan apapun akan sia-sia.

Sumber Kebahagiaan
Apabila seorang mukmin telah melandasi hidupnya dengan iman kepada Allah Ta’ala, maka pasti hidupnya akan bahagia, tenang, dan damai.

Allah Ta’ala berfirman, ”Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (Al-Fath [48]: 4)

Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,
Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al-Baqarah [2]: 11

Tapi, apabila seseorang lebih mengutamakan panggilan nafsunya, kalau toh ia memperoleh kesenangan, maka kesenangan itu hanyalah bersifat semu, sesaat, kemudian berganti dengan kesedihan, ketakutan, kegalauan yang berkepanjangan.

*Muh. Khomaini

Wanita Pertama Masuk Surga

Fatimah Az-Zahra, Adalah putri kesayangan Rasulullah SAW, walaupun putri seorang Nabi tidak pernah manja. Pantang baginya meminta sesuatu kepada sang ayah. Hidupnya sederhana, dan taat beribadah.

Sebagai seorang istri, serta ibu dari Hasan dan Husein, Fatimah selalu sabar dan ikhlas. Tugas kesehariannya dijalani sendiri
, seperti menggiling gandum sampai tangannya lecet.

Tidak merasa berat mengangkut air untuk kebutuhan keluarga hingga alasnya berbekas di dadanya. Rumah Fatimah selalu bersih, dan rapi berkat keuletannya mengurus perabotan di rumah.

Suatu hari Fatimah menanyakan kepada ayahnya, siapakah perempuan yang pertama kali masuk surga? Rasulullah menjawab, “Wahai Fatimah, jika engkau ingin mengetahui perempuan pertama masuk surga, selain Ummul Mukminin, dia adalah Ummu Mutiah
. 

“Siapakah Mutiah itu, ya Ayah Handa? Di manakah dia tinggal?” tanya Fatimah penasaran. Karena tidak ada yang mengenal Mutiah
. Rasulullah menjelaskan, Ummu Mutiah yang dimaksud adalah perempuan yang tinggal di pinggiran Kota Madinah.

Jawaban itu membuat Fatimah tercengang. Ternyata bukan dirinya perempuan yang masuk surga pertama kali. Padahal Fatimah sebagai putri Rasulullah, dan telah menjalankan ibadah, amalan, serta bermuamalah dengan baik. 

Untuk memenuhi rasa penasaran, Fatimah berkunjung ke rumah Mutiah di pinggiran Madinah. Dia ingin menyelidiki amalan dan ibadah apa yang dilakukan Mutiah hingga Rasulullah menyebut namanya sebagai perempuan terhormat.

Keesokan harinya, Fatimah pamit kepada suaminya mengunjungi kediaman Mutiah. Dia mengajak putranya Hasan. Setelah mengetuk pintu
, memberi salam, terdengar suara dari dalam rumah. “Siapa di luar?” tanya Mutiah. 

Fatimah menjawab, “Saya Fatimah, putri Rasulullah.”
Mutiah belum mau membuka pintu, malah balik bertanya, “Ada keperluan apa?”

Fatimah menjawab, ingin bersilaturahim saja. Dari dalam rumah Mutiah kembali bertanya, “Anda seorang diri atau bersama yang lain?” “Saya bersama Hasan, putra saya,” jawab Fatimah dengan sabar.

“Maaf, Fatimah,” kata Mutiah, “Saya belum mendapat izin dari suami untuk menerima tamu laki-laki.”
“Tetapi Hasan anak-anak,” balas Fatimah.

“Walaupun anak-anak, dia lelaki juga. Besok saja kembali lagi setelah saya mendapat izin dari suami saya,” timpal Mutiah.

Fatimah tidak bisa menolak. Setelah mengucapkan salam ia bersama Hasan meninggalkan kediaman Mutiah.

Keesokan harinya, Fatimah kembali mengunjungi rumah Ummu Mutiah. Kali ini bukan hanya Hasan yang ikut, Husein pun ingin ikut ibunya. Tiba dikediaman Ummu Mutiah, terjadi lagi dialog dari balik pintu. 

Menurut Mutiah, suaminya telah mengizinkan Hasan masuk ke rumahnya. Sebelum pintu dibuka, Fatimah mengatakan, kali ini bukan hanya Hasan yang ikut, melainkan bertiga bersama Husein. Mendengar jawaban Fatimah, Mutiah urung membukakan pintu.

Mutiah menanyakan, apakah Husein seorang perempuan? Fatimah meyakinkan Mutiah bahwa, Husein cucu Rasulullah, saudaranya Hasan. “Dia seorang anak laki-laki.” 

“Saya belum meminta izin kepada suami kalau Husein mau berkunjung ke rumah ini,” kata Mutiah.
“Tapi Husein masih anak-anak,” tegas Fatimah.

“Walaupun anak-anak, Husein laki-laki juga. Maafkan Fatimah, bagaimana kalau kembali besok, setelah saya meminta izin kepada suami,” kata Mutiah.

Fatimah tidak bisa memaksa Mutiah. Dia bersama Hasan dan Husein kembali pulang, namun besok berjanji untuk datang lagi.

Keesokan harinya, Mutiah menyambut kedatangan Fatimah bersama Hasan dan Husein dengan gembira. Kali ini kehadiran Hasan dan Husein telah mendapat izin dari suaminya. Fatimah pun bersemangat ingin segera ‘menyelidiki’ ibadah, amalan, dan muamalah apa saja yang dilakukan perempuan pertama masuk surga ini.

Keadaan rumah Mutiah jauh dari yang dibayangkan Fatimah. Rumahnya sangat sederhana, tanpa perabotan mewah. Namun, semuanya tertata rapi dan bersih. Tempat tidur beralaskan seprai putih yang harum. Setiap sudut ruangan tampak segar dan wangi membuat penghuninya senang berlama-lama di rumah. Hasan dan Husein pun merasa betah bermain di kediaman Ummu Mutiah.

Selama berkunjung, Fatimah tidak menemukan sesuatu yang istimewa dilakukan Mutiah. Namun, Ummu Mutiah kelihatan sibuk mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu. “Maaf Fatimah, saya tidak bisa duduk tenang menemanimu, karena saya harus menyiapkan makanan untuk suami,” ungkap Mutiah yang terlihat sibuk.

Mendekati waktu makan siang semua masakan sudah tersedia. Mutiah menuangkan satu per satu makanan di wadah khusus untuk dikirim ke suaminya yang bekerja di ladang. Yang membuat Fatimah heran, selain makanan, Mutiah membawa bekal sebuah cambuk. 

“Apakah suamimu penggembala?” tanya Fatimah. Menurut Mutiah, suaminya bekerja sebagai petani, bukan penggembala.  “Lalu, untuk apa cambuk tersebut?” tanya Fatimah semakin penasaran.

Mutiah menjelaskan, cambuk ini sangat penting fungsinya. Jika suami Mutiah merasa masakan istrinya tidak enak, dia ridha cambuk yang ‘bicara’. 
“Oh, itu?” sahut Mutiah denga tersenyum.” Cambuk itu kusediakan untuk keperluan lain. Maksudnya begini, kalau suami saya sedang makan, lalu kutanyakan apakah maskan saya cocok atau tidak?
Mutiah akan menyerahkan cambuk kepada suaminya untuk dipukulkan ke punggungnya. “Berarti aku tidak bisa melayani suami dan menyenangkan hatinya,” kata Mutiah.

“Apakah itu kehendak suamimu?” tanya Fatimah.

“Ini bukan kehendak suami. Suamiku orang yang penuh kasih sayang. Semua ini kulakukan karena keinginanku sendiri, agar jangan sampai menjadi istri durhaka kepada suami.” 

Jawaban Mutiah menjadi jawaban atas misteri yang selama ini dicari Fatimah. Masya Allah, demi menyenangkan suami, Mutiah rela dicambuk. 

“Aku hanya mencari keridhaan dari suami, karena istri yang baik adalah istri yang patuh pada suami yang baik dan suami ridha kepada istrinya,” ujar Mutiah. “Ternyata ini rahasianya,” gumam Fatimah. 

Mutiah kini balik heran, “Maksudnya rahasia apa, Fatimah?” 

Fatimah menjelaskan bahwa Rasulullah mengatakan dirinya (Ummu Mutiah) adalah perempuan yang diperkenankan masuk surga pertama kali.

“Pantas saja kelak Mutiah menjadi perempuan pertama masuk surga. Dia menjaga diri dan sangat tulus berbakti kepada suami,” ujar Fatimah dalam hati. 

Apa yang dilakukan Mutiah bukan simbol perbudakan suami kepada istrinya. Melainkan cermin ketulusan, dan pengorbanan istri yang patut mendapat balasan surga. 
Tak hanya itu, saat itu masih ada benda kipas dan kain kecil.

“Buat apa benda ini Muthi’ah?” Siti Muthi’ah tersenyam malu. Namun setelah didesak iapun bercerita. “Engkau tahu Fatimah, suamiku seorang pekerja keras memeras keringat dari hari ke hari. Aku sangat sayang dan hormat kepadanya. Begitu kulihat ia pulang kerja, cepat-cepat kusambut kedatangannya. Kubuka bajunya, kulap tubuhnya dengan kain kecil ini hingga kering keringatnya. Ia-pun berbaring ditempat tidur melepas lelah, lalu aku kipasi beliau hingga lelahnya hilang atau tertidur pulas”

Sungguh mulia Siti Muthi’ah, wanita yang taat kepada suaminya. maka tidaklah salah jika dia wanita pertama yang masuk surga.

Muh. Khumaini
Dari Berbagai Sumber
 
Copyright © 2013. Mr. Pinter - All Rights Reserved
Template Created by ThemeXpose